Home / berita umum / Dipasung 20 Tahun Karena Gangguan Jiwa, Kini Rantai yang Jerat Kaki Wanita Ini Dilepas

Dipasung 20 Tahun Karena Gangguan Jiwa, Kini Rantai yang Jerat Kaki Wanita Ini Dilepas

Dipasung 20 Tahun Karena Gangguan Jiwa, Kini Rantai yang Jerat Kaki Wanita Ini Dilepas – Sitti Nur (32), penduduk Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dipasung saat 20 tahun sebab alami masalah jiwa. Sekarang, rantai yg menangkap kakinya dilepaskan. Sitti dapat dirawat ke RS Polewali Mandar.

Sitti dilepaskan kala dosen serta mahasiswa Akper YKPP Polewali Mandar menyelenggarakan bakti sosial untuk mengatasi Sitti, Sabtu (4/5/2019). Perlakuan ini dijalankan dengan lakukan advokasi pada keluarga untuk membebaskan Sitti dari belenggu rantai yg menjeratnya dalam kamar.

Sebelum diantar ke rumah sakit, Sitti Nur yang disebut sulung dari enam bersaudara, lebih dahulu dimandikan. Ia didandani dengan dukungan beberapa mahasiswi dari akademi keperawatan YPPP.

Proses pembebasan Sitti Nur berjalan lama berkat kunci gembok pengunci rantai baja yg mengikat kakinya sukar lepas sebab berkarat. Pihak keluarga terpaksa sekali memakai mesin pemotong supaya rantai baja itu bisa dilepaskan.

Keluarga menjelaskan penyakit masalah jiwa yg terkena Sitti bermula dari kesurupan yg disusul perasaan takut terlalu berlebih. Kondisinya seterusnya kerapkali tidak konstan.

“Mulai saat itu kondisinya udah belum pernah normal , kerapkali ketakutan serta marah-marah, sempat dibawa ke rumah sakit jiwa akan tetapi kondisinya tidak beralih, maka itu terpaksa sekali kami rawat melalui langkah dirantai supaya tidak berkeliaran, sebab diresahkan dapat mengganggu penduduk,” papar ibu Sitti, Irawati.

Dalam peluang yg sama, Kepala Desa Batu, Sunarto, mengaku lambannya perlakuan penyakit yg terkena Sitti. Hal tersebut disebabkan tidak tersedianya kabar dari penduduk serta pihak keluarga.

“Ini tidak ada yg melapor, pihak keluarga merahasiakan, sampai-sampai kita jadi pemerintah desa tidak mengerti, kita mengharapkan penduduk tidak malu untuk menyampaikan apabila ada sanak keluarganya yg menanggung derita penyakit, supaya dapat kita lekas tangani untuk diberi pertolongan,” kata Sunarto.

Disamping itu, salah seseorang dosen, Frendy Besar, mengharapkan advokasi yg dijalankan mulai sejak 2015 memperoleh suport dari seluruh pihak. Ia pula mengharapkan tak ada lagi pasien masalah jiwa yg habiskan hidupnya dalam pasungan.

“Keluarga harus mengerti jika perbuatan pasung itu bukan pilihan yg pas, pilihan yg pas itu perawatannya yakni dengan membiarkan pasung lalu mengarahkan pasien untuk berobat ke layanan kesehatan,” papar Frendy sebagai relawan perlakuan pasien masalah jiwa yg hidup dalam pasungan.

Berdasar pada data dari Dinas Kesehatan, Frendy menjelaskan sekurang-kurangnya 24 penduduk pasien masalah jiwa di Polewali Mandar hidup dalam pasungan. Akan tetapi, sambung Frendy, hal tersebut belum diselesaikan dengan baik.

About admin